tidak ada yang terlalu menarik perhatian saya akhir-akhir ini, kecuali kedatangan seorang sahabat dari Swiss. ya. namanya Sigit Susanto. dia seorang yang sederhana, tapi wawasannya akan khazanah sastra dunia sama sekali tidak sederhana. belum lama ini dia menerbitkan sebuah buku catatan perjalanan, buah petualangannya merambah pelosok bumi. judul bukunya ‘Menelusuri Lorong-lorong Dunia’, diterbitkan oleh Insist Press.
saya berkesempatan tatap muka dengan Sigit tadi malam di emperan Taman Ismail Marzuki, bersama beberapa kawan yang selama ini hanya saya kenal lewat tulisan, baik dari buku maupun di internet. di antaranya ada Akmal Nasery Basral (wartawan Tempo yang juga penulis novel Imperia), Sihar Ramses Simatupang (penyair dan penulis novel Lorca), Ari Condro (di internet dikenal sebagai masarcon, pria tambun dengan wawasan cerita silat luar biasa), Mbak Ochi (Dorsey Silalahi, salah satu moderator milis Apresiasi Sastra), Bowo (anggota baru Apsas), Kris (penulis puisi yang cukup produktif), Donny Anggoro (penulis musik yang menjadi wartawan olahraga di free tabloid; FreeKick), dan berkenalan dengan Bang Iwan Soekri Munaf, seorang penyair.
Sigit datang dari Swiss dengan membawa segudang cerita dan sekarung buku bermutu yang dengan sukarela dibagikannya kepada kami. saya sendiri mendapat ‘A Farewell to Arms’, Ernest Hemingway. thanks pal.
satu hal yang paling menarik bagi saya dari sosok Sigit ialah kegemarannya menapaktilasi kehidupan para sastrawan dunia, baik melalui riset sekunder maupun dengan menyambangi kota kelahiran atau kota kematian sang maestro. maka, tidak heran jika pengetahuan biografis Sigit begitu kuat. saya percaya hal ini amat membantu beliau (dan kita) dalam memahami karya-karya sastrawan tersebut.
dari ziarahnya ke makam Franz Kafka, Sigit menuturkan bahwa sampai sekarang masih banyak penggemar penulis novel fenomenal ‘Metamorphosis’ tersebut yang mengirimkan surat atau kartu pos ke alamat kuburan Kafka di Praha. Membaca isi surat-surat tersebut seakan sang pujaan masih hidup. luar biasa.
yang juga menarik bagi saya ialah cerita Sigit tentang sebuah klub kecil pemuja James Joyce di Swiss (atau Austria?). Dia menemui seorang mantan tukang ledeng, yang karena fanatiknya pada Joyce sampai-sampai akhirnya dia dianugerahi gelar doktor kehormatan dari universitas setempat.
selain sebagai penelaah karya Joyce (penulis novel ‘Ulysses’) Bapak Sein (ini nama kira-kira dari saya, karena Sigit menyebut Bapak ‘Sen’) ialah kolektor merchandise Joyce. Di samping itu, Sein, yang digambarkan Sigit sebagai seorang kakek berambut putih ini mengelola semacam museum kecil plus klub baca Joyce yang beranggotakan tidak lebih dari jari-jari dua tangan.
Sigit berkesempatan menjadi pembaca tamu dalam sesi baca ‘Ulysses’. saking susahnya memahami novel tebal tersebut, dalam satu sesi yang berdurasi 1,5 jam hanya dihabiskan untuk membaca 2,5 halaman saja. secara iseng, Sigit kemudian bertanya kepada nenek di sampingnya, yang membaca ‘Ulysses’ menggunakan sebuah kaca pembesar.
“ibu, sudah berapa lama ikut sesi baca ‘Ulysses’?” tanya Sigit.
“dua tahun,” jawabnya, santai.
kami terpana. mungkinkah budaya literasi ’se-ekstrim’ itu bisa dilakukan di sini? mungkinkah kita akan memulai sesi baca ‘Bumi Manusia’, atau sesi baca ‘Olenka’? semua mungkin-mungkin saja, kalau mau. mendengar cerita-cerita Sigit membuat saya memahami kenapa budaya literasi kita begitu tertinggal, dan mengapa peradaban Tanah Air begitu purba dibandingkan ‘mereka’. benar bahwa kita ini negara yang belum seabad merdeka, tapi jangan lantas menjadikannya semacam ekskuse kan?
ketika ‘mereka’ sudah berlari begitu cepat, kita masih tertatih-tatih merangkak.
pukul 10.00 malam menjelang dan kami memutuskan bubar. pertemuan singkat dengan Sigit, yang berencana menelusuri lorong nusantara ini amat berarti.
sampai berjumpa lagi, kawan!

Date: 13 May 2007
Hi My Name Is ivagdw.