AWALNYA adalah sebuah keingintahuan. Saya mencoba untuk mengombinasikan beberapa fitur RSS di hampir seluruh aplikasi jejaring sosial yang saya ikuti, mulai dari Friendfeed, Twitter, Facebook, Tumblr, dan blog saya sendiri.
Di luar dugaan, ternyata eksperimen saya kacau balau, terutama yang menyangkut Friendfeed dan Twitter.
Masalahnya sebenarnya cukup simpel: Friendfeed menangkap setiap entri saya di Twitter, tapi juga memiliki kemampuan untuk mengirimkannya kembali ke Twitter. Jadi, seperti pingpong. Akibatnya, posting saya di Twitter hanya berupa pingpong berkali-kali dengan Friendfeed. Semua berlangsung secara otomatis (bahkan ketika saya sama sekali tidak online).
Saya bisa memahami apabila teman yang menjadi follower saya merasa terganggu. Yang membuat saya kemudian berpikir adalah, apakah Twitter sudah sedemikian merasuknya ke kehidupan penggunanya sehingga ketika ada masalah seperti ini responsnya sangat “keras” (terasa dari beberapa sumpah serapah yang dilontarkan). Seakan-akan terganggunya kegiatan di Twitter berarti kiamat.
Saya tahu, saya bersalah. Tapi kesalahan saya rasanya bukan sesuatu yang berakibat fatal bagi orang lain. Apalagi, ketika masalah itu terjadi, saya sempat minta maaf dan berjanji akan memperbaikinya. Cuma karena didera berbagai kesibukan akhirnya saya tunda dulu.
Saya khawatir, sedih, dan agak sedikit trauma dengan ini. Karena itu, saya memutuskan untuk meninggalkan Twitter.
Sekali lagi saya mohon maaf kepada follower saya yang merasa terganggu. Semestinya kalian bisa langsung klik tombol “Remove” di halaman profil saya tanpa perlu menghardik.
Date: 08 November 2008
heh? ada yg menghardik? apa pertanyaan saya juga dianggap menghardik?…
Date: 08 November 2008
Pengguna tweter itu emang narsis bangsat, norak…. banci deh apa apa semua orang mo tau
Date: 08 November 2008
hehe mas daus “pundung” yah ada yg marahin. udah terusin aja, apapun kata orang. tinggal perbaiki aja kesalahannya, biarin aja kl ada yg marah2, tinggal di remove aja apa susahnya sih?
Date: 08 November 2008
Saya udah lama banget ninggalin Twitter. Sempat nyoba Plurk tapi ujung2nya sama aja: kayak pasar.
Date: 08 November 2008
terlepas dari kesalahan mas daus, saya juga ngerasa layanan itu udah nggak seperti dulu lagi. betul kata roy di atas, kayak pasar. rame nggak karuan.
Date: 08 November 2008
bangke tuh twitter!! *padahal gw gak ngerti masalahnya apa
Date: 08 November 2008
waduw, I didn’t mean to be harsh mas, really. I’m sure its simply because we care :)
Date: 09 November 2008
saya tidak meninggalkan Twitter, hanya saja saya mendileti orang yang saya follow yang saya anggap celewed seolah2 berbalas pantun. Plurk juga saya tidak tinggalkan, saya hanya membatasi orang2 yang akan saya jadikan teman. Yang tidak saya kenal tentu saja saya abaikan bahkan saya blok.
Twitter dibuat bukan untuk Chat atau saling berbalas pantun beruntun, Plurk sepertinya dibuat hampir menyerupai Chat, karena di sana disediakan fasilitas untuk mengkomeni posting.
Friendfeed dibuat untuk memudahkan komunikasi antara jejaring2 yang kita punyai diberbagai merek social network, tapi jadinya memang kacau balau kalo setiap merek itu saling pingpong.
uaehuraheiurh..
Tumben komen gw panjang dan soso membahas padahal gangerti juga kek apa.
Date: 11 November 2008
wah, gak jadi daftar twitter deh =)) *padahal baru mau daftar
Date: 12 November 2008
Terimakasih sudah meninggalkan komentar di blog post saya, Mas Daus. Saya :( karena Mas Daus ternyata masih marah. Tapi ya sudahlah, moga-moga someday kemarahan itu bisa mereda. Btw, kalau hari sabtu ini sempat, mari datang ke tweet up/ karaoke dalam rangka ulang tahun saya. Undangannya di sini http://is.gd/77zs Terimakasih
:) chibialfa
Date: 12 November 2008
Mas Daus,
Saya sangat menyayangkan keputusan Mas untuk keluar dari Twitter, apalagi saya kemaren itu baru follow 1 hari, eh … hari berikutnya Mas udah pergi. Kebetulan saya saksikan sendiri kejadian *multi-posting* yang Mas ceritakan diatas, saya pikir waktu itu memang agak sedikit mengganggu, tapi saya nggak berpikir sejenak pun kalau hal itu Mas lakukan dengan sengaja, apalagi memang Mas sudah *jelaskan* bahwa itu dikarenakan oleh Friendfeed yang Cross-Posting ke Twitter dan sebaliknya. Saya yakin bahwa Mas pasti akan memperbaikinya, makanya saya biarkan saja. Eh, malah sehari kemudian saya dengar bahwa Mas cabut dari Twitter karena banyak yang komplain gara-gara itu.
Kalau boleh saya berpendapat, di forum internet manapun kita ikut berpartisipasi, baik itu di Twitter, Plurk, Facebook, Friedster, MySpace, atau yang lebih konvensional seperti Forum atau Mailing List, semuanya punya ciri yang sama. Di setiap *tempat* ini, sudah hampir bisa dipastikan bahwa ada saja orang yang nggak ngerti *sopan-santun*, yang nggak pernah mikir dua kali kalau ngomong, mereka-mereka ini nggak pernah mikirin apa efek dari omongan mereka terhadap orang lain. Hal ini sudah menjadi fenomena normal jaman Internet.
Untungnya, di semua *tempat* diatas, ada cara-cara supaya kita bisa menghindari hal-hal diatas, misalnya ‘un-follow/un-friend’, ‘block’, ‘mute’, dlsb. Tentunya kita bisa dan punya hak untuk *keluar* dari komunitas tersebut.
Tapi kalau menurut saya, itu terlalu overkill. Kenapa, karena dibanding dengan segilintir orang yang cuap-cuap nggak karuan itu, masih ada banyak teman yang lain yang *care*, yang memberikan support sewaktu kita down, memberikan nasehat sewaktu kita membutuhkan, atau ‘just be there’ ketika kita membutuhkan *teman*.
Ini contoh thread dari Plurk dimana saya nanya sesuatu yang penting untuk saya tahu, dan respon dari teman-teman sangat berguna bagi saya: http://www.plurk.com/p/6pesd, http://www.plurk.com/p/6pe17
Menanggapi komen diatas yang katanya komunitas-komintas ini kayak ‘pasar’, well ‘What do you expect ? Sepi-sepi aja kayak kuburan ?’. Namanya saja sudah ‘Social Networking’, justru karena seperti pasar itulah kita jadi merasa seperti nggak sendirian, justru inilah gunanya Twitter atau Plurk atau yang lainnya, yaitu ‘mencari teman’, memperluas cakrawala, makin banyak makin bagus.
Anyway, moga-moga komentar saya ini tidak dianggap menggurui, kalau saya ada salah kata tolong dimaafkan. Setiap orang punya salah, yang penting kita belajar dari kesalahan tersebut, dan ‘move on’.
Give Twitter (or Plurk) a second chance Mas :) Kalau join lagi, jangan lupa nick saya *mahadewa* (di Twitter dan di Plurk). Kalau nggak, Mas tau email saya, kalau mau ngobrol-ngobrol silahkan.
Peace and Love !
Date: 12 November 2008
@Alfa, saya nggak marah kok ;)
Date: 12 November 2008
@Bagus, thanks. Tidak seburuk itu saya memandang Twitter. Saya cuma tidak ingin hal serupa terulang lagi. Agak traumatis buat saya.
Ayah dan ibu saya, yang sebenarnya berhak untuk memaki saya, tidak pernah berkata kasar kepada saya. Ini betul-betul personal kok mas. Mungkin karena saya tidak siap diperlakukan tidak hormat.
Saya bukan anti dikritik. Saya senang berdiskusi, berdebat (dengan cara yang sehat dan argumentatif), tapi saya tidak terbiasa menerima perlakuan tidak menyenangkan. And that’s my problem. Not yours, not the community’s, and of course, not Twitter’s.
Mengenai kehidupan maya lain seperti Forum, milis, dll, saya juga paham kok. Masalahnya, saya belum pernah bermasalah di sana.
Date: 13 November 2008
As written as a reply to your comment in my blog:
@Daus. Makasih Mas Daus, atas penjelasannya :) Sekarang saya merasa lebih enak juga. I really appreciate that,
seperti yang saya tweet di sini:
http://twitter.com/chibialfa/status/1002417804
Maaf juga kalau saya ada salah kata, and now let’s put everything behind :)
Juga, terimakasih atas birthday wish-nya. really, if you can, please come :)
Cheers,
Alfa